Enter your keyword

Alumnus ITB 1973 Jadi Pembicara Studium Generale, Prof. Indroyono Soesilo Bahas Diplomasi Sains dan Teknologi

Alumnus ITB 1973 Jadi Pembicara Studium Generale, Prof. Indroyono Soesilo Bahas Diplomasi Sains dan Teknologi

Alumnus ITB 1973 Jadi Pembicara Studium Generale, Prof. Indroyono Soesilo Bahas Diplomasi Sains dan Teknologi

Bandung, alumni.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menyelenggarakan Studium Generale KU-4078 dengan mengangkat tema “Diplomasi Sains & Teknologi Indonesia–Amerika Serikat” pada Rabu (2/9/2026) di Sasana Budaya Ganesa (SABUGA) ITB. Studium Generale kali ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, M.Sc., Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat sekaligus alumnus Sarjana Teknik Geologi ITB angkatan 1973, sebagai pembicara utama. Kehadiran beliau menjadi momentum untuk mempertemukan pengalaman seorang alumnus ITB dengan isu strategis sains, teknologi, dan diplomasi di tingkat global.

Acara diawali dengan sambutan Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Dalam sambutannya, Rektor menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam membangun sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi dalam menghadapi berbagai tantangan global. Menurutnya, hubungan antara sains, teknologi, dan diplomasi menjadi semakin penting dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah perkembangan dunia yang dinamis. Kehadiran Prof. Indroyono sebagai alumnus ITB yang memiliki pengalaman panjang di tingkat nasional dan internasional juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk melihat luasnya ruang pengabdian dan kontribusi setelah menyelesaikan pendidikan di ITB.

Dalam pemaparannya, Prof. Indroyono Soesilo membahas bagaimana sains dan teknologi dapat menjadi instrumen strategis dalam diplomasi Indonesia di panggung global. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya berperan dalam mendorong kemajuan ekonomi dan pembangunan nasional, tetapi juga dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kerja sama Indonesia dengan negara-negara mitra, termasuk Amerika Serikat.

Diplomasi sains dan teknologi menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan global yang membutuhkan kolaborasi lintas negara. Kerja sama dalam bidang riset, inovasi, pendidikan tinggi, energi, lingkungan, kesehatan, hingga teknologi masa depan dapat menjadi ruang strategis bagi Indonesia dan Amerika Serikat untuk memperkuat hubungan bilateral sekaligus menghasilkan solusi atas berbagai persoalan bersama.

Sebagai alumnus Teknik Geologi ITB angkatan 1973, Prof. Indroyono juga memberikan perspektif mengenai perjalanan keilmuan dan pengalaman profesional yang dapat membawa lulusan ITB berkontribusi hingga ke tingkat internasional. Kisah perjalanan beliau menjadi gambaran bahwa kompetensi sains dan teknologi yang dibangun melalui pendidikan dapat berkembang menjadi kekuatan untuk memberikan kontribusi dalam berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan diplomasi internasional.

Dalam kesempatan tersebut, setelah rangkaian acara Studium Generale selesai, Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier ITB turut memberikan apresiasi kepada Prof. Indroyono Soesilo berupa topi dan kaos satualumni. Pemberian cendera mata ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara ITB dan para alumninya, sekaligus memperkenalkan SATUAlumni sebagai bagian dari ekosistem jejaring alumni ITB. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi ramah tamah dan dokumentasi bersama.