Temu Komunitas Penggiat Selam ITB
Bandung — Temu Komunitas Penggiat Selam ITB digelar dengan rangkaian talkshow dan diskusi bersama para alumni serta instruktur selam pada pukul 14.30 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman lintas generasi sekaligus momentum peresmian komunitas selam sebagai wadah kolaborasi alumni dan penggiat penyelaman di lingkungan ITB.
Sesi talkshow menghadirkan sejumlah narasumber alumni yang aktif di dunia penyelaman. Pak Kemal, alumni Teknik Lingkungan ITB angkatan 2001, berbagi pengalaman menerapkan kemampuan selam dalam industri energi dan migas, serta aktivitas edukasi bersama NGO. Ia menekankan pentingnya menghubungkan praktik penyelaman dengan kebutuhan masyarakat, terutama melalui penerapan standar keselamatan (safety diving) dalam aktivitas sehari-hari.
Jeremy, alumni Oseanografi ITB angkatan 2020, membahas peluang selam sebagai karier profesional. Ia saat ini tengah mengikuti pelatihan dive master di Legend Dive Bali melalui program beasiswa. Jeremy menyoroti masih minimnya keterlibatan tenaga profesional Indonesia dalam pengelolaan sumber daya kelautan melalui penyelaman, mengingat banyak dive center yang masih dikelola pihak asing. Sementara itu, Pak Jimi selaku instruktur selam ITB mengingatkan pentingnya disiplin terhadap standar keselamatan dalam setiap aktivitas penyelaman. Ia menekankan perlunya sertifikasi diving yang sesuai dengan panduan resmi serta kepatuhan pada prosedur keselamatan sebagai aspek utama dalam kegiatan selam, baik profesional maupun rekreasi.
Memasuki sesi diskusi dan sharing pukul 15.30 WIB, berbagai alumni turut membagikan pengalaman. Alumni Oseanografi angkatan 1998 menceritakan perkembangan aktivitas selam di program studi Oseanografi, dari yang awalnya kegiatan minoritas hingga kini menjadi mata kuliah wajib. Ia juga mengusulkan pengembangan kegiatan berbasis kewirausahaan di bidang selam.
Alumni Teknik Lingkungan ITB lainnya berbagi pengalaman menjadikan selam sebagai aktivitas rekreasi di berbagai lokasi di Indonesia, sembari menegaskan bahwa prinsip keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Alumni STEI juga menceritakan luasnya jejaring yang terbentuk melalui kegiatan selam, karena mempertemukan individu dari latar belakang profesi yang beragam. Ia turut mengemukakan ide pengembangan bisnis selam, seperti penyediaan diving buddy serta fasilitas open trip agar kegiatan selam lebih mudah diakses. Kegiatan ditutup dengan peresmian Komunitas Penggiat Selam ITB pada pukul 16.30 WIB. Pembentukan komunitas diharapkan dapat berkembang menjadi organisasi berbadan hukum sehingga mempermudah penyelenggaraan berbagai kegiatan penyelaman, mengingat selam merupakan olahraga yang membutuhkan persiapan serius dan biaya yang tidak sedikit.
Ke depan, komunitas ini diharapkan menjadi wadah yang menyatukan alumni, penggiat, serta berbagai unit dan komunitas selam di ITB seperti Nautika dan POS G-10. Selain memperkuat jejaring, komunitas juga diharapkan mendorong budaya keselamatan, pengembangan profesional, serta kontribusi nyata dalam pengelolaan dan pelestarian sumber daya kelautan Indonesia.