Enter your keyword

Shana Fatina, Alumni ITB Berdampak, Berdayakan Desa Menjadi Destinasi Dunia

Shana Fatina, Alumni ITB Berdampak, Berdayakan Desa Menjadi Destinasi Dunia

Shana Fatina, Alumni ITB Berdampak, Berdayakan Desa Menjadi Destinasi Dunia

BANDUNG, itb.ac.id – Bagi Shana Fatina, pembangunan di wilayah 3T tidak dimulai dari mimpi besar tentang destinasi wisata, tetapi dari kebutuhan paling mendasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Melalui upaya menghadirkan akses air bersih di Labuan Bajo, Founder dan CEO Komodo Water yang juga alumni Teknik Industri ITB 2004 itu menunjukkan bahwa persoalan dasar dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan sosial, ekonomi, dan pariwisata yang lebih berkelanjutan.

Gagasan tersebut ia bagikan dalam Studium Generale ITB bertema “Dari Desa ke Destinasi Dunia: Pemberdayaan Masyarakat dalam Ekosistem Pariwisata” di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Rabu (1/4/2026).

Shana yang menjabat President Director Labuan Bajo Flores Tourism Authority 2019-2024, mengatakan, di Labuan Bajo, yang dikenal sebagai gerbang menuju Taman Nasional Komodo dan destinasi wisata kelas dunia, masih ada warga yang harus menempuh hingga enam jam demi mendapatkan air bersih. Bahkan, lebih dari 25 persen penghasilan bulanan masyarakat dapat habis hanya untuk membeli air.

Menurut Shana, persoalan air bukan semata soal kebutuhan rumah tangga. Ketika akses air bersih lebih mudah, masyarakat dapat memiliki lebih banyak waktu dan membuka peluang ekonomi baru, dari sektor perikanan hingga pertanian.

“Ketika akses air menjadi lebih mudah, masyarakat memiliki waktu lebih untuk aktivitas ekonomi. Nelayan kini bisa memproduksi es batu sendiri tanpa harus ke Labuan Bajo, dan sektor pertanian seperti kopi di Flores juga dapat berkembang lebih optimal,” ujarnya.

Pembangunan Harus Dilihat sebagai Ekosistem

Shana menekankan bahwa pembangunan di wilayah 3T tidak bisa dipandang secara parsial. Pembangunan harus dipahami sebagai ekosistem yang saling berkaitan.

“Air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga fondasi untuk budaya, ekonomi, dan pariwisata—water for culturewater for economyand water for tourism,” ungkapnya.

Ia mengajak mahasiswa untuk melihat perubahan paradigma dalam pengembangan pariwisata. Bila sebelumnya banyak destinasi dibangun dengan orientasi seasunand sand, kini pendekatannya perlu bergeser menuju spiritualitas, ketenangan, dan keberlanjutan (spirituality, serenity, & sustainability). Baginya, pariwisata yang kuat bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga membangun kehidupan masyarakat yang lebih layak dan berkelanjutan.

Ia juga mengatakan bahwa kehidupan di kota memberikan banyak privilege, bukan hanya soal materi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, pengetahuan, jejaring, informasi, dan berbagai peluang lainnya. Kesadaran atas hal tersebut penting agar generasi muda tidak datang ke desa dengan cara pandang merasa paling tahu, tetapi menjadi dasar untuk lebih peka, belajar, dan memahami kebutuhan nyata masyarakat.

Selain itu, ia menilai, menjadi seorang social entrepreneur dibutuhkan keberanian untuk benar-benar hadir di tengah masyarakat dan meresapi kehidupan desa secara langsung. Ada proses panjang untuk mengenali konteks sosial, budaya, serta cara hidup masyarakat. Pendekatan tersebut penting agar solusi benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat.

Bekal dari Kehidupan Organisasi di ITB

Selain berbagi pengalaman profesional, Shana juga merefleksikan masa-masa kuliahnya di ITB sebagai fondasi penting dalam membangun jejaring dan kepekaan sosial. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif di Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB, Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), dan berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), di antaranya Apres! ITB, LFM ITB, dan ITB Student Orchestra.

Menurutnya, kehidupan kampus telah memberinya ruang untuk bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang, sekaligus belajar bekerja sama lintas disiplin.

“Di ITB kita dipertemukan dengan orang-orang yang punya minat yang sama, tapi juga diajak berpikir lintas jurusan dan bergerak bersama dengan misi masing-masing,” ujarnya.

Ia pun membagikan prinsip sederhana yang masih diingatnya hingga kini.

“Saya terngiang-ngiang bahwa di ITB harus punya 10.000 teman. Kenali sebanyak mungkin orang dari berbagai jurusan itu membuka banyak perspektif dan peluang kolaborasi,” tuturnya.

Dampak Besar Berawal dari Langkah Kecil

Shana mengatakan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang spektakuler. Dampak dapat tumbuh dari kepedulian yang sederhana terhadap lingkungan sekitar.

“Kepedulian adalah tanda kita menjadi manusia. Tidak harus langsung berdampak besar, tapi mulai dari sekitar kita. Dari langkah kecil, 0 ke 1, itu bisa membuat akhir yang berbeda,” katanya.

berita asli https://itb.ac.id/berita/detail/63375/shana-fatina-alumni-itb-berdampak-berdayakan-desa-menjadi-destinasi-dunia