Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier ITB Kunjungi Pameran “Setanah, Tak Diam” di Selasar Sunaryo Art Space
ideBandung, alumni.itb.ac.id — Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kunjungan ke Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung, untuk melihat pameran transdisipliner “Setanah, Tak Diam: Merawat dan Membentuk Masa Depan di Tanah Bergerak” Rabu (23/9/2026). Pameran tersebut mempertemukan pendekatan sains, seni, dan budaya dalam menyampaikan isu kebencanaan kepada masyarakat secara lebih dekat dan mudah dipahami.
Pameran yang dibuka sejak akhir Agustus 2026 ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif yang melibatkan ITB, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gamma Metrics, Resilience Development Initiative (RDI), British Geological Survey (BGS), Kyoto University, dan University of Leeds. Kolaborasi lintas institusi dan disiplin tersebut mengangkat berbagai hasil riset mengenai kondisi geologi serta potensi risiko bencana di Indonesia.

Melalui pendekatan seni, informasi dan data ilmiah yang kompleks diterjemahkan menjadi sejumlah instalasi yang bersifat visual dan imersif. Salah satu isu yang diangkat berkaitan dengan potensi risiko kebencanaan di wilayah Bandung Raya, termasuk keberadaan Sesar Lembang. Pendekatan tersebut memungkinkan pengunjung untuk melihat persoalan kebencanaan tidak hanya dari perspektif ilmiah, tetapi juga melalui pengalaman dan pemaknaan artistik.
Kunjungan Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier ITB menjadi bagian dari upaya untuk melihat lebih dekat berbagai bentuk kolaborasi dan kontribusi sivitas akademika ITB dalam menjembatani pengetahuan dengan masyarakat. Pameran ini menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat dikomunikasikan melalui medium yang lebih beragam sehingga pesan mengenai kesiapsiagaan dan ketangguhan menghadapi bencana dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Kehadiran berbagai disiplin dalam pameran “Setanah, Tak Diam” juga memperlihatkan pentingnya pendekatan transdisipliner dalam menghadapi persoalan kompleks. Kolaborasi antara peneliti, seniman, institusi pendidikan, lembaga riset, serta mitra internasional membuka ruang baru untuk menghubungkan pengetahuan, kreativitas, dan kebutuhan masyarakat.
