Single Blog Title

This is a single blog caption
11 Nov 2020

Inovasi Radio & Sepeda Bambu Alumni ITB

Singgih Susilo Kartono merupakan alumnus FSRD ITB (Desain Produk ’86), pendiri dan pencipta Radio Kayu Magno dan Spedagi Bamboo Bike dari Desa Kandangan, Temanggung yang mendunia dengan penghargaan Japan Good Design Award G-Mark 2008, London Design Museum’s Brit Insurance Design Awards 2009, dll. Singgih adalah pencetus gerakan revitalisasi desa melalui Pasar rakyat Papringan yang menginspirasi ratusan desa di Indonesia. International Conference on Village Revitalization (ICVR) pernah diselenggarakan di tengah hutan bambu, Desa Kandangan.

 

Inovasi Sepeda Bambu

Singgih Susilo Kartono sukses mendesain dan memproduksi sepeda bambu yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Bagi Singgih, sepeda bambu Spedagi bukan hanya wujud sebuah produk berbasis sumber daya desa, namun juga menjadi picu awal lahirnya gerakan Revitalisasi Desa Spedagi. Sebuah gerakan yang bertujuan membawa Desa kembali ke harkat dasarnya sebagai komunitas lestari dan mandiri.

 

Sepeda kini telah menjadi salah satu alternatif alat transportasi favorit masyarakat perkotaan, selain bisa digunakan untuk berolah raga. Sepeda juga ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara. Peluang inilah yang dimanfaatkan oleh Singgih Susilo Kartono untuk membuat sepeda dari bahan dasar bambu yang banyak tumbuh di kampung halamannya, Dusun Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

 

Dengan sepeda bambu, Singgih yang cinta dengan sepeda dan concern dengan pedesaan ini ingin menggerakkan masyarakat desa dengan kegiatan-kegiatan positif dan juga menyenangkan. Bagi Singgih, sepeda bambu adalah sebuah bentuk ekspresi dari kekayaan alam desa yang tidak ada matinya untuk dieksplorasi. Berbagai macam kreativitas bisa dilakukan dengan bahan dasar bambu. Sepeda bambu juga menjadi salah satu bentuk kampanye supaya Urbaners mau bersepeda.

 

Selain itu, sepeda bambu ini diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan sosial. Singgih ingin orang-orang lebih concern dengan keadaan sebuah desa, karena desa memiliki banyak potensi yang baik untuk dikembangkan.

 

Inovasi Radio Bambu

Sebelum sukses dengan sepeda bambu, Singgih juga pernah membuat gebrakan dengan menciptakan radio kayu yang diberi label Magno Wooden Radio pada 2004. Tanpa diduga, radio kayu itu tumbuh menjadi produk desainer Indonesia yang mendunia. Radio kayu tersebut sampai ditetapkan sebagai salah satu produk termewah 2008 versi majalah Time.

 

Bukti lain bahwa karya radio kayu telah menjadi kelas dunia, saat kita men-searching kata kunci wooden radio di mesin pencari Google, Magno tampil di barisan teratas. Radio kayu hasil desain Singgih tersebut memang lebih banyak dipasarkan lewat online dengan menyasar pasar luar negeri.

 

Dengan karyawan sekitar 30 warga desanya, hingga saat ini pesanan radio kayu masih terus mengalir. Tiap tahun nilai ekspor radio kayu Singgih rata-rata mencapai 180 ribu dolar Amerika Serikat (Rp 2,3 miliar).

 

*Dari berbagai sumber