Penyerahan Simbolis Sumbangan dari Ikatan Alumni ITB Angkatan 92, 93, 97, dan 98 kepada Ketua IA ITB Agustin Peranginangin
click untuk memperbesar foto
Bandung — Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Angkatan 1992, 1993, 1997, dan 1998 menyerahkan sumbangan secara simbolis kepada Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, Agustin Peranginangin, yang laksanakan pada 12 Januari 2026 di Ruang Kreasi Alumni ITB, sebagai bentuk dukungan terhadap program ITB Peduli Sumatera. Penyerahan simbolis ini menjadi wujud nyata solidaritas alumni ITB dalam merespons bencana yang melanda wilayah Sumatera.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Direktur Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karir ITB, Ketua Umum IA ITB, serta perwakilan alumni ITB dari berbagai angkatan.
Dalam sambutannya, Dr. Andryanto Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn. Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan kontribusi nyata dari para alumni, tidak hanya dalam bentuk bantuan kemanusiaan, tetapi juga melalui keahlian dan pemikiran strategis. Ia menegaskan bahwa kebencanaan di Sumatera, yang telah mencatat lebih dari 170 ribu kejadian bencana dengan dampak kerusakan rumah dan infrastruktur yang masif, harus menjadi momentum nasional untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan sekaligus membangun infrastruktur yang lebih tangguh. Peran alumni ITB memiliki nilai strategis dalam pengembangan studi kebencanaan, termasuk perencanaan risiko bencana jangka panjang hingga 100 tahun ke depan. Menurutnya, kontribusi alumni ITB dapat menjembatani riset akademik dengan implementasi kebijakan dan program nyata di lapangan.
Ketua Umum IA ITB, Agustin Peranginangin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif dan kepedulian alumni Angkatan 92, 93, 97, dan 98. Ia menegaskan bahwa alumni ITB tidak hanya hadir secara reaktif saat bencana terjadi, tetapi juga memiliki kapasitas sebagai pakar untuk merancang program khusus yang berkelanjutan. “Indonesia membutuhkan ekspertis alumni ITB. Kita memiliki sumber daya manusia yang mampu berkontribusi sejak tahap perencanaan, mitigasi, hingga pemulihan pascabencana,” ujarnya.
Perwakilan alumni ITB menyoroti pentingnya penguatan peran alumni dalam kajian dan implementasi kebencanaan, salah satunya untuk mendukung program pelatihan kebencanaan, termasuk pelatihan terkait mitigasi risiko Sesar Lembang. Lebih lanjut disampaikan bahwa bencana yang terjadi saat ini harus dimaknai sebagai momentum untuk membangun Indonesia yang lebih siap, tidak hanya dari sisi fisik infrastruktur, tetapi juga dari sisi nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kolaborasi lintas sektor.
Kegiatan ini ditutup dengan semangat Satu ITB, yang menegaskan pentingnya sinergi antara kampus dan alumni, Sejalan dengan hal tersebut Ditlumnier juga melakukan pengembangan dashboard Satu Alumni sebagai platform kolaborasi.



