Enter your keyword

Membangun Indonesia Berbasis Data

Membangun Indonesia Berbasis Data

Bandung, 25 Februari 2026 – Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Studium Generale bertajuk “Membangun Indonesia Berbasis Data: Data sebagai Fondasi Kebijakan Publik” di Aula Barat ITB. Kegiatan ini menghadirkan Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, sebagai narasumber utama.

Acara dibuka dengan sambutan Rektor Institut Teknologi Bandung yang menekankan peran strategis ITB dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi, riset, dan kontribusi sumber daya manusia unggul di berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan industri. Prof Ardiyan (TK98) Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Pengembangan Karier Ditlumnier berkesempatan menyapa Ibu Amalia yang merupakan kakak kelas alumni Teknik Kimia 90

Dalam paparannya, Ibu Amalia menyampaikan bahwa jejaring dan kultur akademik di ITB menjadi modal sosial dan intelektual yang kuat untuk berkarier di pemerintahan. Lingkungan yang kompetitif, kolaboratif, dan berbasis problem solving membentuk karakter kepemimpinan yang dibutuhkan dalam pengambilan kebijakan publik. Beliau menegaskan bahwa statistik bukan sekadar kumpulan angka, melainkan instrumen strategis untuk menentukan intervensi yang tepat sasaran. Data yang akurat memungkinkan pemerintah merumuskan kebijakan yang efektif dan terukur.

Sebagai lembaga vertikal, Badan Pusat Statistik memiliki lebih dari 30 ribu pegawai yang mengumpulkan data secara serempak hingga ke daerah, dengan standar metodologi dan pengolahan yang sama di seluruh Indonesia. Konsistensi ini penting agar data nasional tidak bias dan dapat dibandingkan secara valid antarwilayah.

BPS juga menerbitkan publikasi resmi setiap bulan sebagai rujukan utama bagi pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha. Menurut Ibu Amalia, membangun Indonesia berbasis statistik berarti menjadikan data sebagai dasar setiap kebijakan. Statistik ekonomi, misalnya, merupakan ilmu tentang bagaimana mengelola sumber daya yang terbatas untuk mencapai kesejahteraan optimal.

Beliau menekankan bahwa logika engineering—yang kuat di ITB—menjadi keunggulan dalam mempelajari ilmu ekonomi, terutama dalam memahami konsep supply and demand (permintaan dan produksi). Ibu Amalia menjelaskan konsep dasar Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu. seperti PDB berbeda dengan gaji rata-rata masyarakat, PDB riil tidak dipengaruhi oleh perubahan harga (inflasi), Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan PDB dari waktu ke waktu. Secara historis, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di kisaran 5% per tahun, dan saat ini berada di angka sekitar 5,1%.

Pertumbuhan ekonomi menciptakan lapangan kerja, tanpa pertumbuhan yang kuat, kesempatan kerja akan terbatas. Beliau menegaskan bahwa tidak ada negara maju tanpa proses industrialisasi, seperti Inggris, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Industrialisasi menciptakan lapangan kerja dengan kebutuhan keterampilan tinggi dan nilai tambah besar. Di Indonesia, sektor yang sedang tumbuh antara lain; Industri logam (terutama produk olahan nikel), Industri kimia dan mesin, Pariwisata (traveling), Produk perawatan kulit (skincare). Sebaliknya, beberapa sektor mengalami penurunan, seperti; karet, kayu, tekstil.

Hilirisasi menjadi faktor utama yang mendongkrak industri logam dan produk turunan nikel. Dalam konteks global, sebelum dan sesudah kebijakan tarif Amerika Serikat pada era Presiden Trump, ekspor Indonesia tetap tumbuh hingga 13,6%, sementara ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat turun sekitar -20%.

Indonesia bahkan naik satu peringkat menjadi peringkat ke-19 sebagai negara eksportir ke Amerika Serikat. Fenomena trade diversion terjadi ketika tujuan ekspor Tiongkok dialihkan ke negara lain akibat perubahan kebijakan perdagangan. Saat ini, sekitar 24% ekspor Indonesia diarahkan ke Tiongkok, menunjukkan kuatnya hubungan dagang kedua negara. Indonesia memiliki 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang berbasis industri, pariwisata, dan pendidikan. KEK menjadi instrumen strategis untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Ibu Amalia menutup paparannya dengan menekankan pentingnya inovasi dalam pertumbuhan ekonomi. Ia mengilustrasikan bahwa bahkan secangkir kopi dapat menjadi inovasi bernilai tambah tinggi ketika diolah secara kreatif.