Bedah Buku Franz Junghuhn | Pesona Gunung-Gunung Jawa Hadir di Ruang Kreasi Bersama Alumni ITB
Bandung, 30 Januari 2026 — Kegiatan Bedah Buku: Franz Junghuhn | Pesona Gunung-Gunung Jawa digelar di Ruang Kreasi Bersama Alumni, Jl. Ganesha No. 15E, sebagai bagian dari rangkaian Pameran Buku Junghuhn yang berlangsung pada 29–30 Januari. Acara ini menjadi forum literasi dan diskusi ilmiah yang mengangkat kembali kontribusi penelitian pegunungan di Jawa melalui karya-karya Franz Wilhelm Junghuhn.
Bedah buku menghadirkan Malik Ar Rahim, Alumni Geologi ’09, sebagai narasumber utama. Diskusi dimoderasi oleh Dr. Alfita Puspa Handayani, S.T., M.T., Kepala Subdirektorat Jejaring dan Kegiatan Alumni Direktorat Kealumnian dan Pengembangan Karier Institut Teknologi Bandung. Malik Ar Rahim merupakan lulusan Geologi angkatan 2009 yang aktif dalam kajian kebumian serta literasi sains populer. Ia dikenal kerap mengangkat topik gunung api, bentang alam, dan sejarah eksplorasi geologi kepada publik dengan bahasa yang lebih mudah dipahami, sehingga menjembatani pengetahuan teknis dengan edukasi masyarakat luas.
Dalam sesi pemaparannya, Malik Ar Rahim membahas nilai ilmiah dan historis karya Junghuhn yang mendokumentasikan gunung-gunung di Jawa dari sisi geologi, vegetasi, hingga zonasi ketinggian serta menelusuri kembali kontribusi Junghuhn dalam pemetaan dan kajian pegunungan di Pulau Jawa. Menurutnya, pendekatan observasi lapangan yang dilakukan Junghuhn pada abad ke-19 tergolong sangat maju karena memadukan pencatatan ilmiah lintas bidang dan dilakukan secara sistematis.
Buku tersebut menyoroti dokumentasi observasi Junghuhn mengenai bentang alam, geologi, vegetasi, serta karakter ekologi gunung-gunung di Jawa. Dalam forum bedah buku, Malik menekankan bahwa catatan Junghuhn tidak hanya bernilai historis, tetapi juga relevan sebagai rujukan awal studi lingkungan dan konservasi kawasan pegunungan.
Malik Ar Rahim juga menyoroti bagaimana catatan Junghuhn dapat digunakan sebagai referensi historis untuk membaca perubahan lanskap pegunungan Jawa saat ini, termasuk isu konservasi, perubahan tutupan lahan, dan mitigasi kebencanaan. Peserta diajak melihat bahwa literatur klasik sains tidak hanya penting sebagai arsip sejarah, tetapi juga relevan untuk memperkaya perspektif riset modern.
Menambah kekayaan visual dalam kegiatan bedah buku, Malik Ar Rahim juga menghadirkan empat lukisan karya Junghuhn yang menggambarkan lanskap pegunungan Jawa hasil observasi lapangannya. Lukisan-lukisan tersebut menjadi bukti bahwa dokumentasi Junghuhn tidak hanya bersifat ilmiah, tetapi juga artistik, sekaligus membantu peserta memahami kondisi visual pegunungan pada masa eksplorasi abad ke-19.