Enter your keyword

100 Tahun BTHF Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Riset Indonesia–Belanda

100 Tahun BTHF Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Riset Indonesia–Belanda

Bandung Selasa (10/2/2026). — Bandoengsche Technische Hoogeschool Fonds (BTHF) merayakan 100 tahun kiprahnya dalam mendukung pendidikan, riset, dan kolaborasi internasional Indonesia–Belanda melalui rangkaian kegiatan di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB). Momentum ini menjadi refleksi atas kontribusi panjang BTHF dalam pengembangan talenta, beasiswa, serta jejaring akademik lintas negara. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa satu abad perjalanan BTHF mencerminkan dedikasi dan komitmen lintas generasi dalam mendukung pendidikan tinggi serta pengembangan sumber daya manusia. Dukungan yayasan tersebut telah melahirkan banyak ilmuwan, insinyur, inovator, dan pemimpin yang berkontribusi bagi Indonesia maupun dunia. Perwakilan Kedutaan Besar Belanda, Adriaan Palm, menyebut peringatan ini sebagai simbol kerja sama akademik yang telah berlangsung sejak 1926 dan terus berkembang menjadi kemitraan dinamis antara akademisi, peneliti, dan mahasiswa kedua negara. (Institut Teknologi Bandung)

Acara peringatan diisi dengan keynote, diskusi alumni, job fair, serta presentasi riset dan inovasi yang mempertemukan mahasiswa, peneliti, alumni, dan mitra industri. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat jejaring kolaborasi riset serta pengembangan sumber daya manusia ke depan. (Institut Teknologi Bandung)


Diaspora Alumni dan Kolaborasi Internasional

Perayaan 100 tahun BTHF juga menegaskan peran komunitas alumni ITB di Belanda sebagai fondasi jejaring diaspora yang mendukung pertukaran pengetahuan dan peluang akademik lintas negara. Peringatan ini menjadi pengingat sejarah panjang hubungan alumni yang berkontribusi pada kerja sama pendidikan dan riset Indonesia–Belanda. (alumniamagz.id)


Arsip Buku Induk ITB 1920–1931 Ungkap Data Mahasiswa dan Jejak Pendidikan Ir. Soekarno

Institut Teknologi Bandung (ITB) menyimpan sebuah arsip penting berupa Buku Induk ITB 1920–1931 yang mencatat data mahasiswa pada masa awal berdirinya institusi tersebut, saat masih bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung). Dokumen ini menjadi salah satu sumber sejarah utama pendidikan teknik di Indonesia. Buku induk tersebut berisi catatan resmi mengenai identitas mahasiswa, asal daerah, riwayat pendidikan, hingga perjalanan akademik mereka. Tercatat sebanyak 914 mahasiswa yang terdata dalam periode 1920 hingga 1931. Arsip ini kini disimpan dan dikelola oleh Unit Perpustakaan ITB sebagai bagian dari dokumentasi sejarah institusi.

Selain memuat data pribadi mahasiswa seperti tempat dan tahun lahir, dokumen tersebut juga mencatat tahun masuk kuliah, program studi yang diambil, serta rekam akademik seperti nilai dan status kelulusan. Arsip ini menjadi bukti penting perkembangan pendidikan teknik di Indonesia pada masa kolonial. Salah satu tokoh nasional yang tercatat dalam buku tersebut adalah Ir. Soekarno. Ia terdaftar sebagai mahasiswa Teknik Sipil di TH Bandung pada 1920-an. Dalam arsip disebutkan bahwa Soekarno bernama Raden Soekarno, lahir di Soerabaia pada 6 Juni 1902, dan sebelumnya menempuh pendidikan di HBS Soerabaia sebelum masuk TH pada 1 Juli 1921. Program studi yang diambilnya adalah Wegen Waterbouwkunde atau teknik jalan dan bangunan air.

Keberadaan buku induk ini memiliki nilai historis tinggi. Dokumen tersebut tidak hanya menjadi rujukan sejarah pendidikan tinggi teknik di Indonesia, tetapi juga menunjukkan peran ITB dalam melahirkan tokoh-tokoh penting bangsa. Selain itu, arsip ini memberikan gambaran profil mahasiswa awal yang kelak berkontribusi pada pembangunan nasional. Para peneliti sejarah juga memanfaatkan arsip ini sebagai referensi untuk mengkaji perkembangan pendidikan kolonial dan pergerakan nasional di Indonesia. Dengan data autentik yang dimilikinya, Buku Induk ITB 1920–1931 menjadi saksi perjalanan awal pendidikan teknik sekaligus lahirnya generasi intelektual Indonesia.